Showing posts with label story. Show all posts
Showing posts with label story. Show all posts

Resonansi Alam

Sejujurnya aku sangat lelah, tapi aku tak juga tertidur. Diluar sedang gerimis dan membawa kabut ke Tembalang. Kabut putih yang terlihat abu-abu bergerak perlahan mengikuti angin membawa hawa dingin menyusup melalui langit-langit jendela. Membuat resonansi alam yang membuka kenangan masalalu, mengingatkan kapan terakhir kali aku tak bisa tidur meski aku sangat letih.

Waktu itu, yang kulihat hanyalah kabut putih yang membawa embun. Terbawa oleh angin gunung yang berhembus dari lembah. Menabrak pohon-pohon edelweiss dan tendaku. Meninggalkan embun yang membasahi lengit-langitnya. Suara kentut disusul dengan suara tawa cekikikan dari tenda sebelah beradu dengan suara angin gunung yang terus menderu dari tadi senja. Mereka yang didalam tenda itu terdengar bahagia meski aku tau sebenarnya mereka tersiksa.

Di tenda ini hanya aku yang belum tidur, aku tau tubuhku sudah merintih memintaku untuk mengistirahatkannya. Hanya saja aku tak ingin malam seperti ini berlalu begitu saja, aku tak tau apakah aku bisa berada di tempat seperti ini suatu hari nanti atau mungkin ini untuk yang terakhir kalinya.

Awalnya aku berharap malam ini akan dipenuhi dengan bintang, tapi sayang aku tak bisa menghalau badai yang datang. Ekspektasiku terlalu tinggi, tapi aku tak boleh berkecil hati. Aku sudah berada disini, Entah kenapa aku sempat ingin berada di tempat ini, padahal perjalanan ke tempat ini tak menjanjikan kebahagiaan. Sejauh ini aku hanya merasakan kelaparan dan kedinginan.

Tak terasa sudah pagi, tepat 2 hari aku tak tidur, begitu juga mandi. Kuabaikan tidurku karena tugas kuliah, begitu juga mandi. Jorok? hah, kau hanya tak mengerti. Jika sampai kau lupa dengan tidur dan mandi mu, aku tau betapa sibuknya dirimu.

Sinar jingga mulai terlihat dari kaki langit timur, aku beruntung bisa melihatnya meski tak lama. Kabut kembali datang menghalangi matahari yang ingin menampakkan diri, merubah semuanya menjadi abu-abu. 
"Selamat pagi..." satu persatu mulai kembali dari mimpinya. Pagi ini puncak tak lagi menjadi prioritas, sepertinya mereka masih sama seperti beberapa bulan sebelumnya. Kenyataan tak seperti angan. Akupun tak tau aku harus kembali ke basecamp atau meneruskan perjalanan yang sudah setengah jalan. Tapi aku tau aku harus sarapan jika tak ingin mati kelaparan dan kedinginan.

Untungnya kali ini aku tak perlu memasak sarapan sendiri, Kawan baru dai Jogja sudah bersiap memasak sarapan dengan menu yang entah apa. Aroma kopi dan nasi, uh aku sudah lapar sekali. Meski dia wanita, tapi tak seperti dugaanku. Masakannya rasanya tak jauh beda dengan masakanku. Oh ekspektasiku terlalu tinggi. Dia bilang, makas di gunung tak seperti yang dia bayangkan, ternyata sedikit lebih sudah tak seperti masak di kosan. Ternyata dia juga punya ekspektasi tinggi. 

Nasi putih hangat, tempe goreng, sosis goreng, sayur yang katanya sop, dan sambal terasi menjadi menu sarapan kami. Menu yang biasa saja, tapi terasa spesial. Jauh lebih baik daripada mie instan. Tapi kali ini realita berhasil mengalahkan ekspektasi. Meski sederhana menu sarapan ini adalah menu paling enak yang pernah ku makan selama pendakian. Mungkin karena aku lapar? oh aku tak mau beralasan lagi. Aku tersadar ternyata kenikmatan, kenyamanan, dan kebahagiaan ternyata hanya masalah waktu. Sesuatu yang terlihat menyiksa ternyata tak sepenuhnya seperti itu, semua bisa terasa nikmat juka kau tau bagaimana cara menikmatinya.

ini sarapan kami

Pagi ini, meski sebenarnya kami menyimpan kekecewaan karena ekspektasi yang terlalu tinggi, tapi kami masih bisa tertawa. Harapan yang terwujud ternyata bukanlah satu-satunya cara untuk merasa bahagia. Tetap bersama meski terlihat sengsara ternyata bisa juga membuatmu bahagia. Mungkin sudut pandang ini yang digunakan oleh orang jawa. "Mangan ra mangan sing penting kumpul", makan enggak makan yang penting kumpul. Kebersamaan itu membahagiakan meski dalam kesederhanaan.

Ada banyak cara untuk bahagia, salah satunya dengan saling menjaga dan tetap bersama

Hidden Exploler

Hey, sudah lama kamu tidak mendengar cerita tentangku bukan?
Sebenarnya aku ingin menceritakan banyak hal kepadamu, tapi terlalu sering bercerita denganmu pasti akan membuatmu bosan.
Ada banyak hal yang kamu lewatkan tentangku, tapi aku tak tau apakah kau ingin tahu tentang hal itu? Tapi sampai saat ini kamu lah temanku yang paling banyak tahu tentang aku.

Suatu hari nanti aku ingin mengajakmu menjelajah bumi ini, menikmati senja, menyentuh kabut, atau menghirup wangi edelweiss. Tapi sayang, sampai saat ini aku masih belum bisa melakukan itu. Aku terlalu sibuk menikmati semua itu bersama teman-temanku, aku tahu kamu terlalu sibuk untuk hal semacam itu.

Diantara kisah yang kami tulis di sosial media, ada sisi kehampaan diantara kami. Kami sama sama terjebak pada situasi bahagia bersama orang-orang yang ingin kami ajak tertawa bersama. Foto-foto dan cerita itu sebenarnya hanyalah kepalsuan untuk menutupi kehampaan kami. Hanya topeng yang kami kenakan untuk mengatakan bahwa kami seolah-olah bahagia meski tidak bersama orang yang ingin kami ajak berbahagia bersama. Dibalik foto-foto dan cerita itu terselip sebuah sandi yang berarti "Kapan kita membuat cerita seperti ini?".

Kadang kami merasa iri dengan orang-orang disekitar kami. Mereka sungguh beruntung bisa membuat kisah bersama dengan orang yang mereka harapkan. Tapi mungkin seperti itu lah sedikit gambaran tentang hidup ini. Kadang apa yang  kita inginkan tidak selalu kita dapatkan. Apa yang kita butuhkan telah Tuhan persiapkan. Meski mereka bukan orang-orang yang aku harapkan tapi jika dipikir merekalah orang yang aku butuhkan. Setidaknya merekalah orang yang bisa ku ajak berlari ketika harapan tidak sesuai dengan kenyataan. Karena mereka lah aku tak terjebak dalam kemonotonan yang menjemukan, bersamanya aku bisa melupakan harapan yang tak sesuai dengan kenyataan dan berkorban untuk sesuatu yang sebenarnya bukan apa-apa, bukan siapa-siapa. Meski pada awal kisah mereka hanyalah pelarian dan pelampiasanku, tapi di tengah cerita aku dan mereka menjadi tokoh utama.



Kenangan SMA - Pertamakali Punya Pacar.

Kenangan SMA - Pertamakali Punya Pacar.

 Setelah satu semester penuh jenuh dengan kemonotonan akhirnya aku menemukan sesuatu dan seseorang yang menjadi penyemangat untuk berangkat ke sekolah. Semenjak itu bangun pagi dan pulang maghrib tidak terasa melelahkan. Kalo dipikir-pikir hebat juga waktu itu bisa bangun sebelum subuh tanpa alarm dan sampe rumah menjelang isya tanpa ngeluh, kecapekan, dan apalagi bosan.
Padahal ketika awal-awal masuk SMA susah banget bangun pagi tanpa alarm, kalo udah bangun juga nggak langsung siap-siap buat ke sekolah. Tapi malah mager-mageran dulu, nonton tv dulu, kalau udah mepet jam 6 baru buru-buru berangkat ngejar angkot makanya sering banget telat ke sekolah. Padahal waktu buat mager-mageran dan nonton tv cukup buat prepare jadi berangkatnya nggak buru-buru dan nggak bakalan ada cerita telat ke sekolah gara-gara gaada angkot.

Kalau menurutku hanya ada dua alasan kenapa seorang pria bisa tiba-tiba berubah, pertama karena ambisi dengan impiannya dan yang kedua karena cinta yang bersemayam didalam hatinya. Kalau aku berubah karena alasan yang kedua.
Semua berubah ketika akhir semester 1. Semester 1 ku nilainya ancur, bisa dibilang raport terburuk sepanjang sejarah hidupku dan akupun semakin terpuruk. Tapi diantara keterpurukan yang menenggelamkan datanglah sosok yang mampu membuatku bangkit dari keterpurukan dan perlahan mulai menata diri.
Entah kenapa waktu itu dia mau peduli kepadaku, padahal kalau dipikir tidak akan ada untungnya bagi dia yang seorang bintang kelas. Rankingnya tidak akan naik karena membantuku, tapi yang ada justru nilainya jatuh gara-gara mendekatiku. Akupun bertanya-tanya yang akhirnya menimbulkan interaksi yang cukup intensif.

Ada pepatah jawa yang mengatakan “tresno jalaran soko kulino”, itu benar adanya dan aku sudah merasakannya sendiri. Yang awalnya biasa saja dengan nama Dinda lama-lama ada sesuatu yang berbeda dengan nama itu. Dan akupun merasa dia lah sang “kopi pagi” yang kucari selama ini.
Jika dilihat secara fisik dari jaman awal masuk sampai akhir semester 1 tidak terlalu menarik. Dia tiba-tiba berubah menjadi begitu menawan begitu masuk semester 2, memang benar ketika sedang jatuh cinta dengan seseorang dia akan terlihat sempurna. Sempurna dengan taring gingsulnya, pipi chubby dengan lesung pipinya, dan kalau sedang senyum aduhai manisnya. Lebay? Namanya juga sedang jatuh cinta.

Pada waktu itu aku masih asing dengan namanya cinta, selama SMP nggak pernah pacaran padahal meski badanku kecil tapi banyak temen sekelas yang tertarik. Memang kalau dibandingkan dengan aku waktu SMA, ketika SMP jauh lebih ganteng, putih bersih tanpa jerawat, bintang kelas pula. Baru masuk SMA aja tiba tiba jadi suram. Meski dulu banyak yang suka bahkan pernah ditembak duluan, aku merasa nggak ada yang menarik sama yang namanya wanita, semuanya biasa aja. Banyak temen yang pacar pacaran tapi tetep aja tidak menarik untuk ikutan. Harap maklum kalau terlambat puber, soalnya jika dilihat dari umur, umurku masih sama seperti anak kelas 6 SD padahal udah kelas 3 SMP.

Setelah mengenal cinta-cintaan dan semenjak kehadiran dia, aku menjadi sangat rajin, mungkin sampe kelewat rajin. Tiap ulangan selalu dapat nilai sempurna atau mendekati sempurna kecuali dalam matematika dan fisika. Mulai dipandang oleh guru dan disegani oleh teman-teman, karena cinta kualitas hidupku meningkat drastis.

Sampailah pada ujian tengah semester, memanfaatkan momentum aku bilang ke ibuku kalau nilai UTS ku ada yang 100 aku akan diijinkan buat bawa motor ke sekolah. Jadi tambah semangat ke sekolah dan tambah semangat buat belajar. Tiap malem belajar, ngerjain PR, dan tentu saja sambal smsan sama Dinda. Saling nyemangatin kalo lagi bosen, saling ngingetin tugas, bantu bikin PR sampe saling tuker buku catatan juga.

Saat nilai UTS keluar, aku dapet 100 untuk biologi dan Komputer. Akhirnya dapet ijin buat bawa motor ke sekolah meski belum punya SIM. Eit, belum punya sim tapi jangan dikira nggak jago naik motor, aku jauh lebih jago bawa motor daripada kakak sepupuku yang udah lolos ujian SIM. Nggak Cuma itu, aku juga bisa bawa berbagai jenis motor, mulai dari motor matik, bebek, motor yang pake kopling, vespa, juga motor roda tiga. Ngerti juga permasalahan-permasalahan tentang motor yang biasa aku pake, mulai dari cara setel rantai, merawat rantai, bersihin busi, sting karburator, atur tekanan angin, benerin lampu yang mati, sampai ganti oli. Jadi meski secara legal belum diijinkan bawa motor di jalan, tapi bisa dibilang aku sudah siap untuk bawa motor sendiri di jalan.
Apakah kamu berfikir aku minta ijin bawa motor biar bisa buat jalan bareng dinda?, jika iya dugaanmu salah. Aku minta ijin buat bawa motor karena lama-lama angkot yang ada tidak lagi bisa diandalkan. Datang sering diluar kebiasaan, akiibatnya pernah nggak dapet angkot buat pulang kerumah.

Jika kamu berfikir aku terlalu lebay gara-gara nggak dapet angkot dan berasumsi nggak dapet angkot kan bisa minta jemput. Kalian belum mengerti kalau jarak antara rumah ke sekolah kurang lebih 20 km. kalau mita jemput bisa sampe 1 jam kemudian baru sampe, bisa-bisa jam 9 malem baru sampe rumah. Belum lagi dengan PR yang dibawa pulang, keburu beranak pinak dengan PR yang lain.

Kembali ke Dinda.


Meski udah deket banget tapi aku belum juga berani bilang kalau aku suka sama dia. Belum pernah nembak cewek jadi masih takut-takut dan ragu-ragu. Ntar kalo ditolak gimana, kalau udah diterima gimana. Tapi bukan cowok namanya kalau tidak bisa melawan rasa takut yang ada didalam dirinya. Akhirnya kuberanikan diri buat bilang ke dia.
Setelah beberapakali gagal bilang gara-gara tiba-tiba gagap setiap kali mau bilang “I love U”, akhirnnya aku pake cara lain. Bilang pake video stop motion yang isinya lyric sama lagunya Endah and Resa When you love some one dengan sedikit ilustrasi tentang aku dan Dinda.
Waktu itu tanggal 12 Februari aku bekerjasama dengan temennya buat membuat sekenario sedemikian rupa sehingga aku bisa nunjukin video yang udah aku buat. Pulang sekolah, dengan modus mau minta ajarin bikin tugas di kantin. Semua berjalan lancer pada awalnya. Dateng bertiga sama temennya Dinda, makan dulu, baru bahas tugas, kemudian setelah aku memberikan kode ke temennya dinda dia bakal ninggalin aku sama Dinda.  Sialnya meski udah pake video, masih aja gagap buat ngomong kasih pembukaan. Tanganku gemeteran pas megang hape, tanpa sepatah kata apapun aku langsung putar videonya dan tunjukin ke dia. Rasanya deg-degan banget ketika videonya sudah selesai, dia hanya diam selama beberapa saat, kemudian temennya dateng dan dia pergi begitusaja bahkan tanpa pamit. Digantungin banget. Tapi sebelum dia enyah dari jarak pandangku, tiba-tiba dia telfon dan bilang. “aku terima cintamu, aku mau kok jadi pacar kamu”.

Aku gatau harus bilang apa, tapi kata itu terasa ajaib bagiku, membuat waktu berjalan lambat. Aku tiba-tiba seperti berada di dalam game prince of Persia the two thrones kemudian  menggunakan sand of time untuk memperlambat gerak waktu. Cinta telah membuatku berhalusinasi seperti pecandu yang sedang terbang tinggi-tinggi.

Kenangan SMA – Tahun Pertama (Pendek Bikin Salah Fokus)


 Baru tau rasanya kangen pas SMA ketika udah kuliah, semester-semester awal masih waktu susah move on dari SMA, tahun pertengahan sudah mulai terbiasa dengan suasana kampus dan sudah mulai bisa moveon dengan kenangan SMA, semester tua udah bodo amat sama kenangan SMA yang penting wisuda. Ha.ha

Ceritanya lagi gabut terus beres beres kamar, ga sengaja nemu barang-barang yang mengingatkan kenangan diwaktu SMA. Sebenernya kalo menurutku masa SMA itu nggak terlalu berkesan, tapi berhubung udah lama ga ke SMA dan udah lama nggak ketemu spesies yang juga berasal dari SMA yang sama jadinya kangen aja.


Tahun pertama di SMA

Namanya juga baru masuk, masih polos-polosnya nggak tau banyak hal tentang SMA, Cuma tau dateng ke sekolah pagi-pagi abis itu pulang gitu aja. Minggu-minggu pertama masuk SMA rasanya langsung bosen dengan aktifitas yang monoton gitu-gitu aja, biar nggak bosen iseng-iseng aja ikut Ekskul, dan ternyata tetep aja bosen.

Untuk menghilangkan kebosanan dengan keseharian yang gitu-gitu aja, aku mengeksplor apapun yang bisa menambah semangat ketika berangkat ke sekolah. Sampe kepikiran, cari pacar aja kayaknya seru. Dan ternyata banyak juga yang berfikiran sama buat nyari pacar, katanya sih buat nambah semangat dateng ke sekolah. Namanya juga anak SMA, baru aja gede, baru merasakan namanya cinta-cintaan, makannya pacaran aja kerjaannya.

Dilema dibalik 145 cm.

Jujur waktu kelas 1 aku paling minder kalo deketin lawan jenis, bukan karena jelek, tapi lebih karena tinggi badanku yang dibawah kata ideal. Waktu itu tinggi badanku hanya 145 cm, sama tongkat pramuka aja tinggian tongkatnya, apalagi sama cewek-cewek seangkatanku. Tingginya berkisar antara 150 an- 170 an. Dengan tinggi badan segitu aku bisa dibilang manusia terpendek di sekolah,lebih pendek daripada cewek terpendek di angkatanku. Dengan tinggi badan yang segitu aku merasa agak nggak enak ketika berdiri dan ngobrol dengan cewek yang tingginya 160 keatas.
Pas kelas 1 aku ikut ekstrakulikuler pramuka, pas perekrutan anggota baru ada sesi evaluasi. Di sesi itu kami disuruh baris terus dibentak-bentakan oleh kakak kelas, karena aku paling pendek jadi aku paling depan, paling banyak nerima hujan local. Waktu itu ada kakak kelas cewek yang lagi marah marah tepat di depanku, jaraknya sangat dekat sampe bisa merasakan hembusan nafasnya dan dapet cipratan ludahnya. Pas dimarahin aku sengaja nunduk, soalnya posisinya nggak enak. Kalo tetap tegap menjaga pandangan kedepan, pemandangannya agak nggak enak. Soalnya mukaku setinggi dadanya. Kalo mau liat kea rah mukanya agak nggak enak juga harus mengangkat kepala, ntar dikira nantangin lagi.

Gara-gara tetep nunduk alhasil aku kena marah lagi, mau nggak mau paksain pandangan lurus kedepan dan harus menjaga godaan iman. Posisi udah bener tuh, eh ada kakak kelas cowok yang liatin terus dia dateng ke arahku sambil bilang.
“Woi, kalo di ajak ngomong liat matanya, bukan Tet*knya, dasar otak mesum!”

Kakak kelas cewek yang tadi marah-marah didepanku langsung diem dan meringis-meringis.
Suruh liat matanya, yaudah aku turutin kuangkat kepalaku biar keliatan matanya dia, gara-gara-gara dia tinggii, (tingginya sekitar 165 cm) kesannya aku seperti nantangin. Dan si kakak kelas cowok tadi bilang lagi.

“liatinnya biasa aja, dagunya nggak usah diangkat, kamu nantangin?”

ini fotonya pas di evaluasi, suruh tutup mata gara-gara salah fokus. panah merah itu saya, pelakunya tepat didepannya, yang angkat jari, sama yang dibelakangnya. maaf kalo disensor, mukanya nggak layak dimuat he.he

Terus rame deh, yang lain pada dateng dan aku dipisahkan dari barisan. Dikerumuni kakak kakak yang lagi kesetanan. Udah dikatain abis abisan, mulai dari otak mesum, nantangin, sampe dikatain preman. Tapi aku tetep diem aja sampe akhirnya mereka lelah berbicara, ada yang suaranya abis, ada yang emosi dan ada juga yang udah lelah dengan diamku. Ketika mereka udah puas bentak-bentak akhirnya mereka memberikanku kesempatan untuk berbicara, kujelaskan kenapa sikapku seperti itu.

Kakaknya : “kalo emang preman, ayo ngomong”
Aku : “kenapa daritadi saya nunduk aja pas di evaluasi, karena mbak itu marah-marahnya tepat didepan saya, mau jaga biar pandangan tetap kedepan takut dikira liatin yang lain, dan ternyata benar, mas X tadi ngatain saya otak mesum. Terus kalo pas di ajak bicara liat matanya dikira nantangin. Bukan maksud angkat dagu buat nantangin, Mas nya tinggi dan saya kurcaci.”

Mereka semua tertawa geli.

Ceritanya masih akan berlanjut, tunggu aja.
Perdebatan Logika dan Hati

Perdebatan Logika dan Hati

Punya banyak teman itu kadang menyenangkan, tapi dari sebagian banyak teman yang dimiliki hanya sebagian saja yang bisa di sebut benar benar teman. Sejenis sahaba, begitulah mereka bilang. Secara alamiah melalui perjalanan hidupnya akan secara otomatis akan terseleksi dan terpilihlah teman yang layak dipertahankan dan diperjuangkan. Intinya orang mempunyai kemampuan untuk mengontrol siapa yang layak jadi temannya dan siapa yang tidak layak. Tapi bagaimana dengan teman dan cinta?
Secara alami cinta datang mengalir begitusaja, tanpa dipaksa, dan juga tanpa bisa memilih termasuk mencintai sahabatmu sendiri. Mungkin ini yang seringkali menjadi dilemma dalam persahabatan lawan jenis. Kurasa bukan hanya aku yang terjebak dalam hubungan yang menyebalkan seperti ini. Apakah kamu juga? Jika iya, tau sendiri kan betapa tidak enaknya terjebak dalam hubungan semacam ini. Jika tidak bisa menahan diri dan melakukan kecerobohan, orang yang tadinya sangat akrab bisa jadi saling asing, seolah tak mengenal. Itulah resiko terburuk yang harus diterima jika tetap nekat mengikuti kata hati tanpa strategi yang pasti. Tapi, meski seperti itu ada sisi baik yang bisa diharapkan. Bisajadi pasangan yang berawal dari hubungan persahabatan berujung ke pelaminan.
Indah bukan? Tapi jika kamu benar benar menjadi tokoh utama dalam kisahnya keindahan itu berat pengorbanannya. Yang pasti dikorbankan adalah perasaanmu, harus kuat-kuat menahan diri dan mengikuti logika, menimbang resiko yang harus diterima. Meski sebenarnya terlalu mendengarkan logika itu menyiksa hati, aka nada saatnya suatu hari nanti hati yang akan berbicara. Simpan saja rasa itu jika memang belum mampu untuk membuktikannya, ya, membuktikan bukan mengatakan.
Ada yang lebih menyedihkan daripada sekedar memendam rasa, itu ketika ternyata temen sepermainanmu juga suka sama sahabatmu. Dimanakah posisimu harus berada? Jika aku lebih memilih untuk menyembunyikan rasa itu, bersikap biasa saja dengan sahabatku ataupun temanku itu. Nggak enak memang rasanya hidup dengan topeng, tapi menurutku itu jalan yang terbaik jika memang sahabatku itu adalah jodohku, aku tak perlu khawatir kehilangan dia.
Berat memang harus mendamaikan logika dan hati. Logikaku berkata. “Simpan saja rasamu itu, nyari Sahabat itu jauh lebih susah daripada sekedar cari pacar”.
Hatiku berkata “please, ungkapkan saja aku tak tahan harus memendamnya lebih lama lagi”.
“jangan bodoh, menemukan orang yang mau terus bersamamu tanpa alasan itu susah”
“hei logika, kamu tak pernah tau betapa menyakitkannya diposisi seperti ini”
“jangan ikuti katahatimu itu, jika kamu mengungkannya terus apa yang akan kamu lakukan setelah itu?”
“Aku tak tau”
“itulah betapa bodohnya kamu wahai hati, bertinda tanpa rencana yang pasti. Dia pasti akan memilih orang yang memberikan kepastian, bukan hanya sekedar harapan!”
“mungkin sebaiknya seperti itu, tak apa aku menahan pedih ini untuk sementara untuk bahagia yang lebih lama”
Dan akhirnya logikaku memenangkan perdebatan itu. Jadi teringat kata bijak dari Dua Dunia episode 7 September 2012. “Wahai saudaraku, kekuatanmu bukanlah untuk mengalahkan musuhmu (dalam hal ini temen ku yang juga suka sama si Dia), tapi untuk mengalahkan musuh yang ada di dalam hatimu”.

“akal adalah tempat berfikir, tapi kelemahan akal tidak bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk hatilah yang dapat membedakannya”

Arti TEMAN



Pernahkah kamu berfikir bahwa keadaanmu saat ini adalah murni hasil perjuanganmu sendiri tanpa campur tangan orang-orang di sekelilingmu. Yakinkah bahwa posisimu dan keberadaanmu saat ini merupakan hasil keringat dan air matamu sendiri?.


Pertanyaan-oertanyaan itulah yang seringkali muncul di pikiranku, jawabanku sendiri mengenai pertanyaan pertanyaan itu adalah “TIDAK”, dimana aku berada saat ini, setiap hal yang aku nikmati saat ini bukanlah kerja kerasku sendiri. Ada begitu banyak orang yang menyayangiku telah mengorbankan apapun yang mereka punya hingga aku berada disini. Terutama orangtua dan keluargaku. Merekalah sumber energi hingga aku dapat bergerak, berpindah tempat kemanapun yang aku inginkan, karena mereka juga aku bisa menikmati setiap fasilitas yang aku butuhkan saat ini. Tapi disisi lain masih ada orang yang keberadaannya juga sangat berarti bagiku, mereka yang menguatkanku disaat aku mulai meredup dan mereka yang membantuku bangkit ketika aku terpuruk. Merekalah teman temanku.


Dari perjalanan panjang yang sudah aku lalui selama ini selalu saja ada sosok teman yang selalu menemani dan berjuang bersama. Mereka selalu ada meski terkadang ada orang baru dan yang lama pergi, mereka selalu menemaniku untuk berjuang bersama meniti sempit dan terjalnya jalan menuju impian. Ada yang menemaniku dari awal hingga sekarang, namun ada juga yang datang dan pergi seiring waktu yang terus berjalan. Meski seperti itu, merekalah orang yang pernah menemaniku berjuang bersama walaupun pada akhirnya kita menempuh jalan yang berbeda.


Setiap langkah berjalan berjuang bersamamu teman, itulah setiap cerita yang kita tuliskan bersama di buku sejarah kehidupan kita. Meski tak setiap orang bisa menuliskannya dengan baik, namun aku berusaha untuk mencatat setiap cerita yang di perankan aku dan teman-temanku. Karena aku tidak ingin melupakan setiap kisah yang terjadi, aku tidak ingin menyia-nyiakan perjuangan yang sudah temanku lakukan untuk menemaniku hingga sejauh ini. Karena ketika aku sendirian berada di dunia luar, merekalah yang menjadi penguatku untuk terus berjuang, merekalah yang menjadi alasanku untuk bertahan di dalam kondisi yang sulit. Karena merekalah orang yang mengetri dan faham begitu beratnya sebuah perjuangan. Andaisaja aku benar-benar berjuang sendiri di dunia ini aku yakin aku pasti sudah menyerah sejak awal, aku tidak berada disini sekarang. Memang benar pepatah yang mengatakan,
 “if you want go fast, go alone. if you want go far, go together”.


Teman-temanku memang tak selamanya ada dan terus berjuang di jalan yang sama. Ketika harus berjuang di jalan yang berbeda, mau tak mau kita harus berpisah. Harus berpisah untuk menggapai impian masing-masih, harus berada di jalan yang berbeda meski tujuan kita sama. Saat seperti inilah saat yang paling menyebalkan. Setelah manisnya pertemuan harus menelan pahitnya perpisahan. Memang di dunia ini selalu diciptakan hal yang bertolak belakang demi sebuah keseimbangan. Memang terasa begitu menyakitkan dan begitu kejam. Tapi beginilah hidup, ketika ada yang datang harus ada yang pergi. Selagi bisa bersama, nikmati setiap detik waktumu bersama temanmu. Karena suatu saat nanti setiap detik itu akan terasa begitu berharga, setiap detik itu akan menjadi detik-detik yang dirindukan. Setiap detik itu akan menjadi detik-detik yang ingin di ulangi, jikasaja itu bisa terjadi.


Aku berharap suatu saat nanti aku masih memiliki kesempatan untuk betemu dengan teman-temanku untuk mengenang setiap kisah yang sidah kita lalui. Memang sekarang kita tidak bisa berkumpul lagi seperti dulu, jarak tidak mengijinkan kita bersama lagi setiap hari seperti dulu. Barlah untuk sementara waktu kita berjalan di jalan masing masing, biarlah kita mengalah pada jarak yang cemburu dengan kebersamaan kita. Namun suatu hari nanti kita harus bisa berkumpul lagi, mempersempit jarak diantara kita, mengalahkan ego masing-masing dan menyempatkan waktu meski itu sekejap untuk kita berkumpul dan bercengkrama lagi seperti dahulu.Jikapun kalian sudah tidak sendirian lagi, kalian boleh membawa pasangan hidup kalian atau bahkan anak kalian yang lucu ketika kita berkumpul nanti. Tak perduli apa pekerjaanmu, kedudukanmu, dan gajimu, kita tidak boleh canggung untuk bercanda dan saling mengejek seperti dulu. Karena ketika ada kesempatan untuk bertemu lagi aku harap kita lupakan siapa dan bagaima kita sekarang. Karena kita tidak berkumpul untuk itu, melainkan untuk mengenang bagaimana dan siapa kita di waktu itu, diwaktu kita bersama dijalan yang sama, menangis berasa, mengeluh bersama, dan tertawa bahagia bersama.

dedicated for a5, special thamks to pookils